Selepas menyuruhku memakai hodie, dia mengajakku ke suatu puncak yang disana nampak kendaraan berlalu lalang dan lampu lampu gedung, dan hening malam, aku hanya diam menelisik rambutnya yang sudah agak panjang itu tersapu angin malam, akhir akhir ini ia berantakan, namun ia seorang laki laki, memendamnya dan beberapa masalah ia tidak mau berbagi denganku. Aku mengusap rambutnya, merapikannya sedikit, dan mengalihkan pandanganku untuk menelisik wajahnya dari samping, benar ia sedang lelah.
“Makasih, ya,”
Ia menoleh, tersenyum kecil padaku, “Makasih juga selalu ada, maaf akhir akhir ini aku berantakan, mungkin raut muka aku ngga enak dilihat, ” katanya sambil berbalik mengusap pucuk kepalaku.
“Aku.. boleh nyender ngga?,” ucapku pelan, lalu tangannya membawaku ke bahunya dan merapikan rambut ku, oh iya favoritnya memang memainkan rambutku dengan berbagai caranya.
“Kamu lihat gunung itu?,” tanyanya sambil menunjuk hutan gelap.
“Yang gelap itu?,”
“Ngga gelap sayang, itu cuma malam,” elaknya.
“Kamu mau tracking kesana?,” tanyaku, mengingat hobinya yang menyatu dengan alam hanya sekadar menghirup udara dan menyeruput kopi kesukaannya.
Kemudian ia mengangguk, “Ngga papa ya?,”
Ia tahu sebenarnya aku tidak suka ketika ia pergi seperti itu, maksudku aku hanya khawatir ketika ia tidak memberi kabar, aku jelas menyayangi dia, makannya seperti itu, dan aku beruntung dia paham itu dan sekali pun tidak ada kata risih yangbia perlihatkan diperlakuan, ia selalu berhasil menjelaskan kepadaku dan berusaha aku percaya untuknya, ia selalu tersenyum walaupun aku tahu terkadang dia menyembunyikan perasaannya sendiri, aku hanya bisa berdoa dia benar benar menyayangiku seperti tatapan dan perlakuan yang ia berikan. Aku terdiam cukup lama,
“Jangan khawatir, aku pilih timnya cowo semuanya dan ngga umum ini bahasanya bisa dibilang premiumlah, hanya orang orang tertentu, ini aman buat aku, dan ini ngga lama, paling lama 4 hari, ”
“Eum aku tetep khawatir liat kamu, ngaca, aku takut kondisi bada kamu ngga memungkinkan, inget beberapa bulan lalu pas kamu pulang, sampe di opname?,” aku jelas akan selalu menggerutu seperti ini, tanggapannya hanya tertawa saja.
“Masih ada waktu dua minggu sayangku, aku bakal buktiin ya nanti waktu mau berangkat, aku medical check up ke kamu, nanti kamu liat oke atau ngga, aku percaya kamu realistis, ”
“Iya deh iya, i trust u ya bang jago,”
Ia tertawa mendengarnya, “Haha, makasi ya selalu jadi dopping buat aku, aku jadi selalu punya tujuan sama semangat tau, aku rasa.. i'm so lucky to have you,”
Aku beranjak dari sandarannya, menatapnya mual, “Ih? lebay,” ucapku meledek.
Tangan kanannya mencubit pipiku, “Itu fakta, salting nya jelek,”
Aku meringis, “Kamu tuh ya!, ngga ada yang salting, ”
“Ini aku cubit soalnya pipi kamu merah,” aku pun diam menatap sinis laki laki itu.
“Lucu banget deh,”
“Ngga ya!, ngga ada, ngga usah tanya, ngga usah ngomong,”
“Udah ah, malem, pulang yuk,”
Aku masih terdiam, tampak ia menghela nafas dan tersenyum kecil, “Ada apa gerangan atau pertanyaan kanjeng ratu?,”
Aku memukul lengannya, “Plis stop lebay, aku mau tanya, ”
Ia menggeser duduknya berada didepanku dan menatapku, “Silahkan,” katanya.
“Kenapa kamu ngga pernah ajak aku ikut kamu naik gunung, apa kamu.. punya cewe.. euh LC.. gitu, makannya kamu ngga pernah ajak aku?!,” nada bicaraku memang agak sarkas disana.
Ia menunduk dan tertawa, “Hei, denger, aku aja ngga kepikiran kesana, aduh itu dari mana?,”
“Ya kan ngga ada yang tahu, bisa aja,”
Ia kembali menatapku, menyelipkan rambutku kebelakang telinga menggunakan kedua tangannya, merapikannya sedikit dan mengangkap tudung hodie yang aku pakai, menarik talinya sedikit sambil berbicara, “Gini, bagi aku beberapa cewe itu ribet-”
“Aku? ribet? makannya ngga pernah diajak?,”
Ia menghela nafas pendek, “Dengan senang hati hamba direpotkan tuan putri, tapi ngga gitu, aku tahu kamu ga terlalu suka kotor kotoran, walaupun kadang ya ga sekotor itu, aku tahu itu bukan hobi kamu, aku ngga mau maksa kamu harus sama hobinya sama aku, aku ngga pernah ngajak karena aku takut khawatirin kamu, walaupun aku percaya tekad kamu pas kamu mau sesuatu, aku kan sayang kamu, perempuan menye menye aku ngga boleh kenapa napa,”
Keningku mengernyit, tanpa mengelak apa yang ia ucapkan tentangku, “Kamu dukung aku buat ngga keluar dari zona nyaman aku?,”
“Ngga gitu juga, cuma aku rasa ini bukan passion kamu, kalau kamu mau kamu kabarin aku, kaya aku tuh pengen kamu dengan versi kamu dan aku dengan versi aku, warna warni kan dunianya?,”
“Ngeles banget ya punya cowo, ”
Ia berdecak, “Ih ngeyel, cewe aku itu princess ngga bisa sembarangan, makannya aku pilih pilih, kamu mau juga naik gunung? ayok nanti kita privat berdua, track nya aman buat kamu, tapi nanti kalau kamu udah gede,”
“HEH, emang aku apa?!, aku udah dewasa, ”
Ia menggeleng, “Itu kamu sama orang lain, sama aku nanti ya kalau umur kamu udah 22 atau 23 gitu?,”
Aku memijat kepalaku, tidak habisa pikir dengan pola pikirnya, “Aku bingung, ngga tau, kamu aneh, aku mau pulang, ”
***
Malam itu kami melewati udara malam yang dingin, dan aku yang menyeruput kopi hangat, sesekali memberikan sedotannya kepada supir yang mengendarai motor ini, romantis kan? satu gelas berdua.
“Eh?,”
“Kenapa?,”
“Sebenarnya, tentang naik gunung tadi, ngga mau ajak kamu karena tim aku itu cowo semua dan kalau kamu aku ajak kamu bakal sendiri dan aku ngga akan rela, ngga mau aku mereka ada skinship, takutnya kan aku lagi ngga fokus ke kamu, terus mereka caper bantuin terus pegang pegang tangan kamu, aduh udah ngga kebayang aku ngga mau, ”
“Lho, kan ada yang umum?,”
“Nah itu masalah baru, cewenya bukan kamu doang, kamu emang mau cowonya dicaperin? kadang mereka ngga ada niat naik gunung, mereka fomo doang, giliran susah caper ke cowo, ”
Aku tersedak, bagaimana ini manusia agak kepedean seperti itu?, “Hei kepedean banget kamu,”
“Sebelum aku sama kamu, aku first time umum, dan dari sana aku mikir dua kali, apa lagi posisinya punya kamu, ”
“Lho kenapa?,”
“Mau minum dulu, ” Aku mengarahkan kembali sedotan kopi ini padanya dan ia meneguknya beberapa kali.
Ia mengarahkan kaca spion, “Perasaan kamu itu penting buat aku jaga.”
to be continued..