Kamu
tahu?
Beberapa
hal tidak bisa lenyap begitu saja, beberapa hal terkadang abadi hanya untuk
disimpan sebagai suatu perasaan, mungkin dahulu kamu juga mengalaminya, lantas
aku harus juga sepertimu? Yang kamu rasakan aku harus juga merasakannya? Apakah
yang kamu lakukan adalah bagian dari keadilan? Atau untuk membuatku menjadi
manusia?.
Tuhan
tahu maksudmu, maksudku dan mengapa harus terjadi, tapi bukankah manusia
memiliki perasaan juga?
Tuhan
menciptakanku seperti ini, dengan segala kurang dan lebih, dengan segala
usahaku untuk bertahan, namun berhadapan dengan sesuatu yang tidak aku inginkan
bukanlah keinginanku
“Tuhan
menciptakanmu, untuk tersenyum,”
Matanya
menatap lekat bola mataku, ia menarik bibirku agar melekuk tersenyum, lalu ia
bilang “Oh ayolah, Tuhan hanya ingin memamerkan senyummu yang cantik itu dari
pada melihat kedataranmu yang membuat orang lain salah paham,”
Tentang perasaan ikhlas, atas semua pertanyaan pertanyaanku yang ingin aku tanyakan namun nyatanya jiwaku sudah mengetahui jawabannya, akan tetapi aku tidaklah sempurna hei, Aku habiskan tiga puluh menitku untuk berpikir keras mengapa dan kenapa mereka, kalian bisa seperti itu,aku, aku juga mau seperti itu, perasaan iriku sebatas tawa mereka yang nampak hidup menyenagkan dengan sosialisnya, namun tidakkah sebetulnya aku pun bisa menampakkan semuanya, kembali lagi, aku juga ingin didengar, aku juga ingin diikut sertakan, aku juga ingin mereka mengganggapku mampu. Aku tidak mau disepelekan, lihatlah bahkan aku sebetulnya sudah sering tersenyum, bergurau bahkan, aku juga sudah mencoba menjadi sosok tegas yang dimana malah terjadi kesalah pahaman.
Terbesit
dalam benakku, “Mengapa mereka boleh, sedangkan aku tidak?”
Tuan
dan Nona penghuni semesta, aku masih layak untuk memiliki suatu peran?, aku
juga ingin menunjukan kepada semesta, hidupku yang aku usahakan bersyukur
setiap harinya ini, merasa bangga masih bisa hidup di esok hari, aku mau
menunjukan hidupku bahagia, namun sepertinya setiap bahagiaku itu selalu
membuatku berhati hati untuk tidak terlalu bahagia.
Tapi,
aku tahu jawabannya, aku tahu harus bagaimana, aku tahu seperti apa, maaf jika
aku seberisik itu Tuhan. Beberapa pertanyaan kadang tidak adil, tapi sumpah
untuk bahagia itu sudah kuusahakan dan dari apa yang aku perlihatkan pada semua
manusia itu aku harap mereka bisa membiarkan aku bahagia dan menghargai cara
aku bahagia.
Maaf
perihal mengikhlaskan hatiku masi bergetar kala bayangan buruk hadir, seolah
itu menyapa, seolah berkata “Aku mau menemuimu, “ katanya sambil muncul
bagaimana wajah wajah mereka menatapku dengan mulut yang aku harap suaranya
tidak ingin lagi kudengar dengan kata katanya yang aku harap tidak terbaca
lewat mulutnya,
Mungkin
Tuhan tersenyum kala membaca seluruh apa yang aku tulis, lucunya perempuan ini
memahaminya tapi sedikit enggan untuk menolaknya, tapi tetap “Mengapa mereka
bisa seperti itu, dan jika aku seperti mereka, aku salah, mengapa?,”
Berulang
kali, berjuta kali, aku juga mau!, disisi lain aku juga ingin selalu bersyukur
untuk hari hari kemarin yang aku lalui, tapi aku iri dengan porsi mereka.
Seolah
langkahku tercekat untuk berlari dan melangkah lebar, tapi izinkan aku terbang
dan meledak ya!, secepatnya dan selalu mengudara, aku usahakan untuk setara
pada mereka yang memperlakukanku, dan maaf jika langkah mereka terhambat,
walaupun aku tau mereka tidak berfikir mengapa dan serumit diriku, tapi
setidaknya Tuhan buat mereka sadar.
Ada
luka yang mereka gores ketika sedang
berjalan tanpa mereka sadari, ada sakit yang tidak bisa menyuarakan,
tapi semoga langkahnya tetap baik disertai hal hal baik untuknya.
Terimakasih
tapi mungkin kesempatan lain jika sudah sadar, tolong menjadi manusia yang
lebih baik lagi, aku hanya perlu melupakan dan beradaptasi dengan luka lukanya
hingga sakit itu buakn suatu penyakit tapi selalu ada untuk menjadi satu hal kuat yang berguna
bagiku.
Aku…
bisa tersenyum untuk fakta fakta itu, tapi bantu aku untuk berjalan, melangkah
lebar, bahkan berlari tanpa tercekat, walaupun tertatih tapi aku tahu kapan bom
waktunya meledak.
Come on! Tidak ada yang sia sia, ragamu boleh lemah, tapi
jiwamu harus tetap tamah.
Sepasang
netra indah itu akan menatapmu dan berkata semuanya akan baik baik saja,
layaknya air, kamu harus bisa menempuh perjalanan panjang dengan rintangan
didalamnya, jadilah air yang jernih diujung nanti ya! Jangan pernah tercemar
untuk keruh dan jangan menjadi berbahaya alaupun jernih, jadilah murni, dan
bermanfaat untuk semuanya, sesuai tujuanmu.
Jika
tangismu semakin sering, Tuhanmu merindukanmu, tolong selalu libatkan yaa
karena bagaimana pun dunia yang fana ini, yang katamu terkadang jahaat itu
hanyalah sebuah kesementaraan, ujungnya
jiwamu harus menjadi salah satu golongan yang dirindukan itu.
Hai? Jika kamu selalu membacanya 735 kata ini aku harap
perubahan padamu selalu bersifat baik, grow up with ur goals! Tuhan memberi
semua ini untuk bersyukurmu yang selalu tersenyum.
Bogor, 8 Oktober 2024
22.35
Tidak ada komentar:
Komentar baru tidak diizinkan.