Minggu, 13 Oktober 2024

Tuhan Ingin Aku Tersenyum


Kamu tahu?

Beberapa hal tidak bisa lenyap begitu saja, beberapa hal terkadang abadi hanya untuk disimpan sebagai suatu perasaan, mungkin dahulu kamu juga mengalaminya, lantas aku harus juga sepertimu? Yang kamu rasakan aku harus juga merasakannya? Apakah yang kamu lakukan adalah bagian dari keadilan? Atau untuk membuatku menjadi manusia?.

Tuhan tahu maksudmu, maksudku dan mengapa harus terjadi, tapi bukankah manusia memiliki perasaan juga?

Tuhan menciptakanku seperti ini, dengan segala kurang dan lebih, dengan segala usahaku untuk bertahan, namun berhadapan dengan sesuatu yang tidak aku inginkan bukanlah keinginanku

“Tuhan menciptakanmu, untuk tersenyum,”

Matanya menatap lekat bola mataku, ia menarik bibirku agar melekuk tersenyum, lalu ia bilang “Oh ayolah, Tuhan hanya ingin memamerkan senyummu yang cantik itu dari pada melihat kedataranmu yang membuat orang lain salah paham,”

Tentang perasaan ikhlas, atas semua pertanyaan pertanyaanku yang ingin aku tanyakan namun nyatanya jiwaku sudah mengetahui jawabannya, akan tetapi aku tidaklah sempurna hei, Aku habiskan tiga puluh menitku untuk berpikir keras mengapa dan kenapa mereka, kalian bisa seperti itu,aku, aku juga mau seperti itu, perasaan iriku sebatas tawa mereka yang nampak hidup menyenagkan dengan sosialisnya, namun tidakkah sebetulnya aku pun bisa menampakkan semuanya, kembali lagi, aku juga ingin didengar, aku juga ingin diikut sertakan, aku juga ingin mereka mengganggapku mampu. Aku tidak mau disepelekan, lihatlah bahkan aku sebetulnya sudah sering tersenyum, bergurau bahkan, aku juga sudah mencoba menjadi sosok tegas yang dimana malah terjadi kesalah pahaman.

Terbesit dalam benakku, “Mengapa mereka boleh, sedangkan aku tidak?”

Tuan dan Nona penghuni semesta, aku masih layak untuk memiliki suatu peran?, aku juga ingin menunjukan kepada semesta, hidupku yang aku usahakan bersyukur setiap harinya ini, merasa bangga masih bisa hidup di esok hari, aku mau menunjukan hidupku bahagia, namun sepertinya setiap bahagiaku itu selalu membuatku berhati hati untuk tidak terlalu bahagia.

Tapi, aku tahu jawabannya, aku tahu harus bagaimana, aku tahu seperti apa, maaf jika aku seberisik itu Tuhan. Beberapa pertanyaan kadang tidak adil, tapi sumpah untuk bahagia itu sudah kuusahakan dan dari apa yang aku perlihatkan pada semua manusia itu aku harap mereka bisa membiarkan aku bahagia dan menghargai cara aku bahagia.

Maaf perihal mengikhlaskan hatiku masi bergetar kala bayangan buruk hadir, seolah itu menyapa, seolah berkata “Aku mau menemuimu, “ katanya sambil muncul bagaimana wajah wajah mereka menatapku dengan mulut yang aku harap suaranya tidak ingin lagi kudengar dengan kata katanya yang aku harap tidak terbaca lewat mulutnya,

Mungkin Tuhan tersenyum kala membaca seluruh apa yang aku tulis, lucunya perempuan ini memahaminya tapi sedikit enggan untuk menolaknya, tapi tetap “Mengapa mereka bisa seperti itu, dan jika aku seperti mereka, aku salah, mengapa?,”

Berulang kali, berjuta kali, aku juga mau!, disisi lain aku juga ingin selalu bersyukur untuk hari hari kemarin yang aku lalui, tapi aku iri dengan porsi mereka.

Seolah langkahku tercekat untuk berlari dan melangkah lebar, tapi izinkan aku terbang dan meledak ya!, secepatnya dan selalu mengudara, aku usahakan untuk setara pada mereka yang memperlakukanku, dan maaf jika langkah mereka terhambat, walaupun aku tau mereka tidak berfikir mengapa dan serumit diriku, tapi setidaknya Tuhan buat mereka sadar.

Ada luka yang mereka gores ketika sedang  berjalan tanpa mereka sadari, ada sakit yang tidak bisa menyuarakan, tapi semoga langkahnya tetap baik disertai hal hal baik untuknya.

Terimakasih tapi mungkin kesempatan lain jika sudah sadar, tolong menjadi manusia yang lebih baik lagi, aku hanya perlu melupakan dan beradaptasi dengan luka lukanya hingga sakit itu buakn suatu penyakit tapi selalu ada  untuk menjadi satu hal kuat yang berguna bagiku.

Aku… bisa tersenyum untuk fakta fakta itu, tapi bantu aku untuk berjalan, melangkah lebar, bahkan berlari tanpa tercekat, walaupun tertatih tapi aku tahu kapan bom waktunya meledak.

Come on! Tidak ada yang sia sia, ragamu boleh lemah, tapi jiwamu harus tetap tamah.

Sepasang netra indah itu akan menatapmu dan berkata semuanya akan baik baik saja, layaknya air, kamu harus bisa menempuh perjalanan panjang dengan rintangan didalamnya, jadilah air yang jernih diujung nanti ya! Jangan pernah tercemar untuk keruh dan jangan menjadi berbahaya alaupun jernih, jadilah murni, dan bermanfaat untuk semuanya, sesuai tujuanmu.

Jika tangismu semakin sering, Tuhanmu merindukanmu, tolong selalu libatkan yaa karena bagaimana pun dunia yang fana ini, yang katamu terkadang jahaat itu hanyalah sebuah  kesementaraan, ujungnya jiwamu harus menjadi salah satu golongan yang dirindukan itu.

Hai? Jika  kamu selalu membacanya 735 kata ini aku harap perubahan padamu selalu bersifat baik, grow up with ur goals! Tuhan memberi semua ini untuk bersyukurmu yang selalu tersenyum.

Bogor, 8 Oktober 2024

22.35

Tidak ada komentar:

aku ngga cukup serius buat hal itu

Aku menggores beberapa guratan dari pensil yang kupegang, menuliskan beberapa huruf dibuku kecil sambil mendengarkan lagu yang terputar diru...