Minggu, 11 Mei 2025

aku ngga cukup serius buat hal itu

Aku menggores beberapa guratan dari pensil yang kupegang, menuliskan beberapa huruf dibuku kecil sambil mendengarkan lagu yang terputar diruangan itu, bisa dibilang aku tidak ada kegiatan malam itu,

“Dek, ”

Aku berbalik menghadap seseorang, ia berdiri tepat satu meter didepanku, “Iya?, ”

“Saya boleh minta tolong?, ” tanyanya.

Aku mengangguk, “Boleh Kak, ”

Posisinya ia berdiri dan aku duduk ditempatku, jaraknya sekitar satu meter kedepan tanpa penghalang apa pun, ia mulai menjelaskan permintaannya padaku, nada lembut itu dengan sopan masuk ke telingaku, mengunci pendengaranku hanya pada hal yang dikatakannya, ia mengatakannya hanya berfokus padaku, diam disana menerangkan apa yang ia pinta, dan terlihat hati hati ketika berbicara tampa sadar seharusnya aku berdiri, tapi mendengarkannya aku malah tetap duduk, sudah kubilang nada berbicaranya mrngunciku saat itu, dan dalam permintaannya terakhir dia mengatakan

 “Kalau ngga bisa semuanya, gapapa biar sama saya aja ya sisanya, ”

Aku mengangguk dan mulai mengerjakan apa yang ia pinta, tentu dengan senang hati karena caranya meminta tolong padaku sangat benar. Sialnya aku baru bertemu laki laki selembut itu dan bisa dibilang basic manner yang benar, tentu aku tidak berhak mengikut sertakan perasaanku untuk hal hal seperti ini, karena layaknya meminta tolong adalah seperti itu.

***

Candaan teman temanku tentang laki laki tentu akupun terkena imbasnya, mereka tiba tiba bilang dan menyangkut pautkanku dengan dia, padahal aku tidak pernah berbicara tentangnya dan hanya fokus pada tujuanku ditempat itu, mereka bilang demikian dengan alasan "Kalian punya sifat yang sama, sama sama soft spoken, " aku tertawa mendengar kata soft spoken disematkan untukku, itu hanya untuk keperluan tertentu dan tentunya strangers kan? supaya tidak terkena judge yang aneh aneh. 

Awalnya aku tidak terpancing tentang itu, sampai ya namanya perasaan manusiawi, aku tertarik dan memperhatikannya belakangan ini, sebenarnya melihat dari tingginya yang lebih tinggi dariku, aku sekitar setelinganya saja itu pun kalau sampai, dia cukup baik, tapi kembali lagi dia stranger bagiku, biarlah candaan itu hanya jadi hiburan saja yang tidak benar benar direalisasikan olehku, tapi sialnya kembali aku memutar lagu "Pendengar cerita" dari Luthfi Aulia di part bagian “Mengagumi tanpa bicara" itu sebenarnya membuatku salah tingkah walaupun aku mengakui sebenarnya tidak seserius itu, biarlah sama rata menjadi salah satu orang baik yang aku kenal. Ngomong ngomong mengagumi, sedikit ada, tapi yasudahlah aku tidak mau melibatkan perasaanku lebih dalam, aku mau bersenang senang setelah perjalananku dua tahun kemarin itu, aku tidak mau mengulanginya lagi.

Begitulah manusia ya, aku tidak terlalu serius, tapi cukup begitu, aku terkesan bagaimana beberapa orang memperlakukan manusia lain dengan baik, khususnya antara laki laki dan perempuan, walaupun tidak harus sedekat itu tapi bisa membuat kesan sopan dan baik, berarti aku masih beruntung dikelilingi orang orang baik padaku dan aku akan selalu mengusahakan itu.

Dan tentang perasaan, itu terkunci dengan  baik dengan satu password, aku tidak lagi sembarangan memberi kuncinya, dan aku tidak akan melibatkannya untuk apapun itu.

—part 1 of my new journey

11 Mei 2025, Leuwiliang, Bogor

Jumat, 28 Maret 2025

Sayang

 Selepas menyuruhku memakai hodie, dia mengajakku ke suatu puncak yang disana nampak kendaraan berlalu lalang dan lampu lampu gedung, dan hening malam, aku hanya diam menelisik rambutnya yang sudah agak panjang itu tersapu angin malam, akhir akhir ini ia berantakan, namun ia seorang laki laki, memendamnya dan beberapa masalah ia tidak mau berbagi denganku. Aku mengusap rambutnya, merapikannya sedikit, dan mengalihkan pandanganku untuk menelisik wajahnya dari samping, benar ia sedang lelah.

“Makasih, ya,” 

Ia menoleh, tersenyum kecil padaku, “Makasih juga selalu ada, maaf akhir akhir ini aku berantakan, mungkin raut muka aku ngga enak dilihat, ” katanya sambil berbalik mengusap pucuk kepalaku.

“Aku.. boleh nyender ngga?,” ucapku pelan, lalu tangannya membawaku ke bahunya dan merapikan rambut ku, oh iya favoritnya memang memainkan rambutku dengan berbagai caranya.

“Kamu lihat gunung itu?,” tanyanya sambil menunjuk hutan gelap.

“Yang gelap itu?,”

“Ngga gelap sayang, itu cuma malam,” elaknya.

“Kamu mau tracking kesana?,” tanyaku, mengingat hobinya yang menyatu dengan alam hanya sekadar menghirup udara dan menyeruput kopi kesukaannya.

Kemudian ia mengangguk, “Ngga papa ya?,”

Ia tahu sebenarnya aku tidak suka ketika ia pergi seperti itu, maksudku aku hanya khawatir ketika ia tidak memberi kabar, aku jelas menyayangi dia, makannya seperti itu, dan aku beruntung dia paham itu dan sekali pun tidak ada kata risih yangbia perlihatkan diperlakuan, ia selalu berhasil menjelaskan kepadaku dan berusaha aku percaya untuknya, ia selalu tersenyum walaupun aku tahu terkadang dia menyembunyikan perasaannya sendiri, aku hanya bisa berdoa dia benar benar menyayangiku seperti tatapan dan perlakuan yang ia berikan. Aku terdiam cukup lama,

“Jangan khawatir, aku pilih timnya cowo semuanya dan ngga umum ini bahasanya bisa dibilang premiumlah, hanya orang orang tertentu, ini aman buat aku, dan ini ngga lama, paling lama 4 hari, ”

“Eum aku tetep khawatir liat kamu, ngaca, aku takut kondisi bada kamu ngga memungkinkan, inget beberapa bulan lalu pas kamu pulang, sampe di opname?,” aku jelas akan selalu menggerutu seperti ini, tanggapannya hanya tertawa saja.

“Masih ada waktu dua minggu sayangku, aku bakal buktiin ya nanti waktu mau berangkat, aku medical check up ke kamu, nanti kamu liat oke atau ngga, aku percaya kamu realistis, ”

“Iya deh iya, i trust u ya bang jago,”

Ia tertawa mendengarnya, “Haha, makasi ya selalu jadi dopping buat aku, aku jadi selalu punya tujuan sama semangat tau, aku rasa.. i'm so lucky to have you,”

Aku beranjak dari sandarannya, menatapnya mual, “Ih? lebay,” ucapku meledek.

Tangan kanannya mencubit pipiku, “Itu fakta, salting nya jelek,”

Aku meringis, “Kamu tuh ya!, ngga ada yang salting, ”

“Ini aku cubit soalnya pipi kamu merah,” aku pun diam menatap sinis laki laki itu.

“Lucu banget deh,”

“Ngga ya!, ngga ada, ngga usah tanya, ngga usah ngomong,”

“Udah ah, malem, pulang yuk,”

Aku masih terdiam, tampak ia menghela nafas dan tersenyum kecil, “Ada apa gerangan atau pertanyaan kanjeng ratu?,”

Aku memukul lengannya, “Plis stop lebay, aku mau tanya, ”

Ia menggeser duduknya berada didepanku dan menatapku, “Silahkan,” katanya.

“Kenapa kamu ngga pernah ajak aku ikut kamu naik gunung, apa kamu.. punya cewe.. euh LC.. gitu, makannya kamu ngga pernah ajak aku?!,” nada bicaraku memang agak sarkas disana.

Ia menunduk dan tertawa, “Hei, denger, aku aja ngga kepikiran kesana, aduh itu dari mana?,”

“Ya kan ngga ada yang tahu, bisa aja,”

Ia kembali menatapku, menyelipkan rambutku kebelakang telinga menggunakan kedua tangannya, merapikannya sedikit dan mengangkap tudung hodie yang aku pakai, menarik talinya sedikit sambil berbicara, “Gini, bagi aku beberapa cewe itu ribet-”

“Aku? ribet? makannya ngga pernah diajak?,”

Ia menghela nafas pendek, “Dengan senang hati hamba direpotkan tuan putri, tapi ngga gitu, aku tahu kamu ga terlalu suka kotor kotoran, walaupun kadang ya ga sekotor itu, aku tahu itu bukan hobi kamu, aku ngga mau maksa kamu harus sama hobinya sama aku, aku ngga pernah ngajak karena aku takut khawatirin kamu, walaupun aku percaya tekad kamu pas kamu mau sesuatu, aku kan sayang kamu, perempuan menye menye aku ngga boleh kenapa napa,”

Keningku mengernyit, tanpa mengelak apa yang ia ucapkan tentangku, “Kamu dukung aku buat ngga keluar dari zona nyaman aku?,”

“Ngga gitu juga, cuma aku rasa ini bukan passion kamu, kalau kamu mau kamu kabarin aku, kaya aku tuh pengen kamu dengan versi kamu dan aku dengan versi aku, warna warni kan dunianya?,”

“Ngeles banget ya punya cowo, ”

Ia berdecak, “Ih ngeyel, cewe aku itu princess ngga bisa sembarangan, makannya aku pilih pilih, kamu mau juga naik gunung? ayok nanti kita privat berdua, track nya aman buat kamu, tapi nanti kalau kamu udah gede,”

“HEH, emang aku apa?!, aku udah dewasa, ”

Ia menggeleng, “Itu kamu sama orang lain, sama aku nanti ya kalau umur kamu udah 22 atau 23 gitu?,”

Aku memijat kepalaku, tidak habisa pikir dengan pola pikirnya, “Aku bingung, ngga tau, kamu aneh, aku mau pulang, ”

***

Malam itu kami melewati udara malam yang dingin, dan aku yang menyeruput kopi hangat, sesekali memberikan sedotannya kepada supir yang mengendarai motor ini, romantis kan? satu gelas berdua. 

“Eh?,”

“Kenapa?,”

“Sebenarnya, tentang naik gunung tadi, ngga mau ajak kamu karena tim aku itu cowo semua dan kalau kamu aku ajak kamu bakal sendiri dan aku ngga akan rela, ngga mau aku mereka ada  skinship, takutnya kan aku lagi ngga fokus ke kamu, terus mereka caper bantuin terus pegang pegang tangan kamu, aduh udah ngga kebayang aku ngga mau, ”

“Lho, kan ada yang umum?,”

“Nah itu masalah baru, cewenya bukan kamu doang, kamu emang mau cowonya dicaperin? kadang mereka ngga ada niat naik gunung, mereka fomo doang, giliran susah caper ke cowo, ”

Aku tersedak, bagaimana ini manusia agak kepedean seperti itu?, “Hei kepedean banget kamu,”

“Sebelum aku sama kamu, aku first time umum, dan dari sana aku mikir dua kali, apa lagi posisinya punya kamu, ”

“Lho kenapa?,”

“Mau minum dulu, ” Aku mengarahkan kembali sedotan kopi ini padanya dan ia meneguknya beberapa kali.

Ia mengarahkan kaca spion, “Perasaan kamu itu penting buat aku jaga.”


to be continued..


Kamis, 06 Februari 2025

ini aku, dulu di tahun 2025

 Ketika ikhlas sudah sampai puncaknya, aku rasa beberapa hal hanya perlu bahagia untuk mengatasinya, menerima yang sebenarnya bukan diperuntukan dan dipertemukan dengan aku, satu cara bahagia dengan menyadarinya dan mulai mencintai apa yang seharusnya memang untuk aku, mungkin salah satu kutipan sebuah film tertulis,

"Melepaskan adalah bentuk dari mencintai, ternyata dengan ketulusan itu semesta menghadiahi gue dengan perayaan mati rasa"

Tentang mati rasa aku pernah merasakannya, seolah perasaanku hanya untuknya, namun seiring waktu melepaskan adalah bentuk dari mencintai itu benar adanya, tapi aku juga sadar tidak semestinya harus mati rasa, banyak hal hal bahagia yang mungkin belum dan akan kita temui, untuk merasa bahagia yang sangat bahagia, perasaan kita tidak boleh padam begitu saja, pendapatku, semesta menghadiahi sebuah arti untuk kita melangkah lebih baik lagi.

Aku selalu mau dicintai dengan besar, nyatanya iya, sudah, oleh Tuhanku. Aku meminta pada yang sangat mencintaiku itu untuk bisa dicintai hambanya, tanpa ia cemburu dan mendatangkan apa yang aku mau, aku masih menunggu dan tidak mau menjadi milik siapa pun lagi, perasaan perasaan kemarin itu aku tidak menyesalinya, aku senang diberi  kesepatan seperti itu, jelas aku tidak mau mengulangnya, karena hal yang berlebihan itu tidak baik, tapi doaku yang tanpa semoga itu, mendatangkan hal bahagia kepada aku, apa pun ddiraih dengan sederhana.

Kembali berbicara dengan Lauhul Mahfudz , maaf aku tiga tahun terakhir kali itu, jangan jadi milik siapa pun dulu ya? maaf aku yang tidak sabaran kemarin itu, nanti beri aku dunia kamu dan sudut pandang kamu yang indah dan selalu aku tunggu, dan yang sepertimu harus ada untukku ya?.

Aku juga mau jadi lebih baik untuk itu, tolong sama sama tumbuh dengan sadar, nanti sudah waktunya.. aku harap selalu sehat ya











Selasa, 31 Desember 2024

Di satu detik

Pukul 23.59 aku berada ditengah, tapi waktu akan terus melaju kan?, sebelum langkahku bertambah aku melihat perempuan dengan tawanya, tangisnya, segala masalah yang dihadapinya selama 365 hari berlalu dan tepat hari ini hari terakhir sehingga sempurna 366 hari dilewatinya, ia memandangku ketika aku menoleh kebelakang, menatapku penuh harap, matanya mengisyaratkan “Aku sudah berusaha semampuku, tolong menjadi manusia lebih baik lagi ya, maaf untuk banyak hal yang membuat lemah hingga menangis, dan terimakasih atas kerjasama perjalanan 366 hari hari baru yang diluar dugaan.” Perempuan itu melepas kaca matanya dan melambaikan tangan, tenggorokanku tercekat, tiba tiba mataku berkaca kaca, 366 hari yang penuh drama kehidupan menginjak dewasa, ternyata aku bisa juga ya? melewatinya dengan nafas tenang dan tertawa.

Nampak bulir air mata melewati pipi tirusnya, ia melambai kembali “Selamat melanjutkan perjalanan, aku yakin kamu lebih baik, melangkahlah kedepan, lihat aku sebagai pembelajaranmu jangan sebagai kenangan buruk, aku selalu sayang kamu!,” dengan sedikit berat aku kembali terarah kedepan.

Perempuan lain nampak melambai ke arahku dari arah depan, ia tersenyum bahagia, seperti bilang “Ayo, sekarang giliranku!, kita lewati perjalanannya dengan lebih baik lagi!,” terpejam kemudian menyusun tekad dan teng pukul 00.00 aku ditarik oleh perempuan itu, dan tibalah aku diangka 1.

00.01, ia memegang bahuku, “Ayo jadi manusia yang lebih baik, lebih kuat, tumbuh dengan kebahagiaan dan ayo buat cerita di 364 hari kedepan dengan penuh kebahagiaan ya!, kita berurusan bersama sama disegalanya untuk dunia ini, kita gapai dan kita tata satu persatu, aku mau kamu lebih baik, ” nadanya memaksa dan tegas, semua itu harus kan? aku harus terlelap dan istirahat sejenak setelah perjalanan 366 hari ini sekarang.

Palabuhanratu, 01 Januari 2025, 01.00

Minggu, 13 Oktober 2024

Tuhan Ingin Aku Tersenyum


Kamu tahu?

Beberapa hal tidak bisa lenyap begitu saja, beberapa hal terkadang abadi hanya untuk disimpan sebagai suatu perasaan, mungkin dahulu kamu juga mengalaminya, lantas aku harus juga sepertimu? Yang kamu rasakan aku harus juga merasakannya? Apakah yang kamu lakukan adalah bagian dari keadilan? Atau untuk membuatku menjadi manusia?.

Tuhan tahu maksudmu, maksudku dan mengapa harus terjadi, tapi bukankah manusia memiliki perasaan juga?

Tuhan menciptakanku seperti ini, dengan segala kurang dan lebih, dengan segala usahaku untuk bertahan, namun berhadapan dengan sesuatu yang tidak aku inginkan bukanlah keinginanku

“Tuhan menciptakanmu, untuk tersenyum,”

Matanya menatap lekat bola mataku, ia menarik bibirku agar melekuk tersenyum, lalu ia bilang “Oh ayolah, Tuhan hanya ingin memamerkan senyummu yang cantik itu dari pada melihat kedataranmu yang membuat orang lain salah paham,”

Tentang perasaan ikhlas, atas semua pertanyaan pertanyaanku yang ingin aku tanyakan namun nyatanya jiwaku sudah mengetahui jawabannya, akan tetapi aku tidaklah sempurna hei, Aku habiskan tiga puluh menitku untuk berpikir keras mengapa dan kenapa mereka, kalian bisa seperti itu,aku, aku juga mau seperti itu, perasaan iriku sebatas tawa mereka yang nampak hidup menyenagkan dengan sosialisnya, namun tidakkah sebetulnya aku pun bisa menampakkan semuanya, kembali lagi, aku juga ingin didengar, aku juga ingin diikut sertakan, aku juga ingin mereka mengganggapku mampu. Aku tidak mau disepelekan, lihatlah bahkan aku sebetulnya sudah sering tersenyum, bergurau bahkan, aku juga sudah mencoba menjadi sosok tegas yang dimana malah terjadi kesalah pahaman.

Terbesit dalam benakku, “Mengapa mereka boleh, sedangkan aku tidak?”

Tuan dan Nona penghuni semesta, aku masih layak untuk memiliki suatu peran?, aku juga ingin menunjukan kepada semesta, hidupku yang aku usahakan bersyukur setiap harinya ini, merasa bangga masih bisa hidup di esok hari, aku mau menunjukan hidupku bahagia, namun sepertinya setiap bahagiaku itu selalu membuatku berhati hati untuk tidak terlalu bahagia.

Tapi, aku tahu jawabannya, aku tahu harus bagaimana, aku tahu seperti apa, maaf jika aku seberisik itu Tuhan. Beberapa pertanyaan kadang tidak adil, tapi sumpah untuk bahagia itu sudah kuusahakan dan dari apa yang aku perlihatkan pada semua manusia itu aku harap mereka bisa membiarkan aku bahagia dan menghargai cara aku bahagia.

Maaf perihal mengikhlaskan hatiku masi bergetar kala bayangan buruk hadir, seolah itu menyapa, seolah berkata “Aku mau menemuimu, “ katanya sambil muncul bagaimana wajah wajah mereka menatapku dengan mulut yang aku harap suaranya tidak ingin lagi kudengar dengan kata katanya yang aku harap tidak terbaca lewat mulutnya,

Mungkin Tuhan tersenyum kala membaca seluruh apa yang aku tulis, lucunya perempuan ini memahaminya tapi sedikit enggan untuk menolaknya, tapi tetap “Mengapa mereka bisa seperti itu, dan jika aku seperti mereka, aku salah, mengapa?,”

Berulang kali, berjuta kali, aku juga mau!, disisi lain aku juga ingin selalu bersyukur untuk hari hari kemarin yang aku lalui, tapi aku iri dengan porsi mereka.

Seolah langkahku tercekat untuk berlari dan melangkah lebar, tapi izinkan aku terbang dan meledak ya!, secepatnya dan selalu mengudara, aku usahakan untuk setara pada mereka yang memperlakukanku, dan maaf jika langkah mereka terhambat, walaupun aku tau mereka tidak berfikir mengapa dan serumit diriku, tapi setidaknya Tuhan buat mereka sadar.

Ada luka yang mereka gores ketika sedang  berjalan tanpa mereka sadari, ada sakit yang tidak bisa menyuarakan, tapi semoga langkahnya tetap baik disertai hal hal baik untuknya.

Terimakasih tapi mungkin kesempatan lain jika sudah sadar, tolong menjadi manusia yang lebih baik lagi, aku hanya perlu melupakan dan beradaptasi dengan luka lukanya hingga sakit itu buakn suatu penyakit tapi selalu ada  untuk menjadi satu hal kuat yang berguna bagiku.

Aku… bisa tersenyum untuk fakta fakta itu, tapi bantu aku untuk berjalan, melangkah lebar, bahkan berlari tanpa tercekat, walaupun tertatih tapi aku tahu kapan bom waktunya meledak.

Come on! Tidak ada yang sia sia, ragamu boleh lemah, tapi jiwamu harus tetap tamah.

Sepasang netra indah itu akan menatapmu dan berkata semuanya akan baik baik saja, layaknya air, kamu harus bisa menempuh perjalanan panjang dengan rintangan didalamnya, jadilah air yang jernih diujung nanti ya! Jangan pernah tercemar untuk keruh dan jangan menjadi berbahaya alaupun jernih, jadilah murni, dan bermanfaat untuk semuanya, sesuai tujuanmu.

Jika tangismu semakin sering, Tuhanmu merindukanmu, tolong selalu libatkan yaa karena bagaimana pun dunia yang fana ini, yang katamu terkadang jahaat itu hanyalah sebuah  kesementaraan, ujungnya jiwamu harus menjadi salah satu golongan yang dirindukan itu.

Hai? Jika  kamu selalu membacanya 735 kata ini aku harap perubahan padamu selalu bersifat baik, grow up with ur goals! Tuhan memberi semua ini untuk bersyukurmu yang selalu tersenyum.

Bogor, 8 Oktober 2024

22.35

aku ngga cukup serius buat hal itu

Aku menggores beberapa guratan dari pensil yang kupegang, menuliskan beberapa huruf dibuku kecil sambil mendengarkan lagu yang terputar diru...